Pelajaran Bahasa Indonesia Makin Tidak Diminati

Walaupun pelajaran bahasa Indonesia diajarkan sejak sekolah dasar hingga perguruan tinggi, kompetensi bahasa Indonesia siswa tidaklah menggembirakan. Data hasil ujian nasional (UN) tiga tahun terakhir menunjukkan penurunan nilai bahasa Indonesia. Selama ini bahasa Indonesia ditempatkan siswa sebagai kurang favorit, setelah mata pelajaran eksakta dan ilmu sosial lain.

Kondisi ini diperparah, karena bahasa Indonesia di beberapa sekolah di daerah, diajarkan oleh guru di luar bidang studi rumpun bahasa, antara lain dari bidang hukum, agama, olahraga, sejarah, bahkan matematika. Persoalan guru bahasa Indonesia tidak hanya pada soal kuantitas saja, tetapi lebih pada kualitas.

Demikian benang merah yang mengemuka dalam panel hari terakhir Kongres IX Bahasa Indonesia, Jumat (31/10) di Jakarta. Kenyataan soal pelajaran bahasa Indonesia dan guru bahasa Indonesia yang memprihatinkan itu diungkapkan Direktur Jenderal PMPTK Depdiknas Baedhowi, Kepala Pusat Penilaian Pendidikan, Balitbang Depdiknas Burhanuddin Tola, dan Ketua Asosiasi Jurusan/Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Endry Boeriswati.

Baedhowi mengatakan, efektivitas proses pencapaian kualitas pendidikan tersebut sangat terkait dengan esensi proses komunikasi yang terjadi, dan hal ini sangat berhubungan dengan kemampuan menggunakan bahasa Indonesia. Seluruh bentuk proses peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan itu telah dilakukan dan sebagian besar menggunakan bahasa Indonesia. Dengan demikian, melaui bahasa Indonesia terjadi penyerapan ilmu pengetahuan.

“Pemakaian dan pengembangan bahasa Indonesia menjadi salah satu segi pembangunan bangsa, bahkan sejumlah ahli telah menggunakan dan memperhitungkan bahasa Indonesia sebagai salah satu indikator untuk menunjukkan mutu manusia Indonesia,” tandasnya.

Namun, ironisnya, kemampuan penguasaan bahasa Indonesia siswa SMP dan SMA masih rendah. Kompetensi bahasa Indonesia siswa masih kurang baik, karena yang terjadi adalah penurunan dan bukan peningkatan dari tahun sebelumnya. Data Puspendik Nilai Rata-rata Ujian Nasional Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Tahun 2006, 2007, dan 2008 yang dikutip Baedhowi mengungkapkan kenyataan itu.

Tingkat SMP, nilai rata-rata bahasa Indonesia tahun 2006 adalah 7,46, tahun 2007 turun menjadi 7,39, dan tahun 2008 turun 7,00. SMA Bahasa nilai rata-rata 2006, 2007, 2008 adalah 7,40; 7,08; 6,56 . SMA IPA tahun 2006 nilai rata-rata 7,90, tahun 2007 rata-rata 7,56, dan tahun 2008 rata-rata 7,60. Sedangkan SMA IPS nilai rata-rata UN bahasa Indonesia 7,26 (2006), 6,95 (2007), dan 6,95 (2008).

Data serupa yang lebih lengkap, 15 tahun terakhir, juga diungkapkan Burhanuddin Tola. Kondisi ini terjadi karena tujuan utama penilaian sering diabaikan, kurang dimengerti oleh semua pihak. Yang dipentingkan hanya skornya saja. Dampaknya, skor yang sudah diperoleh siswa belum dimanfaatkan secara optimal untuk menunjang belajar tuntas.

Burhanuddin juga mengungkapkan data profil kemampuan membaca siswa usia 15 tahun tingkat internasional, tahun 2003. Data itu menunjukkan kemampuan membaca siswa SMP tahun 2003 menduduki urutan ke-38 dari 40 negara.

Tidak terpenuhi

Kurang favoritnya bahasa Indonesia membuat rendah minat siswa memilih jurusan bahasa Indonesia. Jurusan bahasa Indonesia di sejumlah perguruan tinggi kekurangan mahasiswa bahkan ada yang terancam ditutup.

Padahal, menurut Endry kebutuhan guru bahasa Indonesia itu meningkat dari tahun ke tahun, bukan saja sebagai pengganti formasi guru yang pensiun tetapi juga mengisi formasi baru. Kebutuhan tersebut belum terpenuhi, sehingga formasi tersebut ada yang diisi oleh guru non bahasa Indonesia. “Untuk mengejar kuantitas saja tidak terpenuhi, lalu bagaimana dengan mengejar kualitas?” katanya.

Endry melukiskan bahwa kebutuhan guru bahasa Indonesia tidak terpenuhi oleh LPTK. Disebutkan, jumlah LPTK yang memiliki program studi pendidikan bahasa Indonesia baik negeri maupun swasta di Indonesia kurang lebih ada 250. Apabila masing-masing program studi setiap tahun menghasilkan 50 orang guru saja, berarti ada 1250 orang calon guru. Ini memang belum mencukupi kebutuhan lapangan baik untuk mengganti formasi atau penambahan formasi. Dengan demikian dapat dipahami apabila terjadi penyusupan profesionalitas.

Menurut Endry, jabatan guru bahasa Indonesia merupakan jabatan yang strategis tidak hanya untuk kepentingan pendidikan tetapi juga kepentingan politis. Guru bahasa Indonesia memiliki amanat politis yang tertuang dalam UUD 1945, yaitu bahasa Indonesia merupakan bahasa persatuan bangsa Indonesia.

“Dengan demikian yang harus ada tidak hanya keberadaan guru bahasa Indonesia saja, melainkan guru bahasa Indonesia yang mampu menjaga keberlangsungan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara dan mendidik manusia Indonesia mampu berbahasa Indonesia,” paparnya.

Kongres IX Bahasa Indonesia, Jumat (31/10) ditutup dengan prosesi pementasan operet Aku Cinta Bahasa Indonesia oleh Eksotika Karmawibhangsa Indonesia, pembacaan puisi oleh Inne Febriyanti, dan pesan oleh Ismet Fanany, Convenor Indonesian Studies, dan dosen Deakin University, Australia. Juga persembahan lagu oleh Ebiet G Ade.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: